Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

Tak Terbalas

Aku, bukanlah seorang yang pandai merangkai kata-kata.
Hanyalah seonggok tubuh yang diberi keajaiban jiwa oleh-Nya,
dan hanya bisa memendam rasa itu begitu dalam dan panjang.

Jauh didalam lubang terkecil dalam tubuhku,
Ku menyimpan dan memendam rasa itu dengan hati-hati serta sangat dalam.
Berharap tiada seorangpun yang akan bisa mengusiknya.

Aku yang lemah, terus berlari.
Tanpa arah tujuan, namun tetap berlari.
Menghindar dari kenyataan pahit jikalau perasaan itu diumbar.

Berlari dengan segenap masalah yang terkait dengan namamu.
Sampai suatu saat aku tak kuasa menahan rasa pedih yang kuterima,
Dan tak kuat berlari lagi, Aku terhempas.

Jatuh terjungkal di kerak bumi yang sedang kupijak.
Tak kuasa menahan pedih perih yang dahulu kusimpan rapat-rapat.

Kumuntahkan segala tentangmu.
Kulupakan apa yang membuatku menyimpanmu dalam bagian tubuhku.
Kubakar segala keterkaitan dirimu.
dan berharap semua telah usai..

Kini takkan ada yang membuatku menangis, terjatuh, dan terpuruk semenyedihkan itu.
Kujatuhkan kau kedalam ruang kesengsaraan.
Suatu perasaan yang tak terbalaskan,
Menjadi dendam batin yang sungguh menyiksaku.

Bagai sabit malaikat maut yang menyayat kepingan rapuh itu kapan saja.
Membawamu ke dimensi berbeda dan melenyapkanmu sepenuhnya disana.

Terimakasih telah mengisi jiwa ini harapan,
dan Terimakasih sudah melenyapkan perasaan itu tanpa bekas.

Kau layak disana,
dimensi ruang menyedihkan dalam jiwaku,
yang berkecamuk marah, dendam, dan tersesat.

Siluet Kelabu-ku

Entah mengapa, kumerasa diriku dipenuhi warna kelabu.
Setiap yang kulakukan selalu ditentang, dihina, direndahkan.
Mengucilkanku layaknya sampah.

Aku tahu aku tak sebanding dengan mereka,
yang penuh dengan keberadaan materi dan kemewahan mereka.
Dibanding mereka, aku lebih mirip seekor burung kecil yang terpojok didalam sarang.

Aku diam dan memendam.
Mencerna sepatah demi sepatah yang mereka ucap kepadaku.
Menyelimuti diri dengan balutan kata sabar yang menahan amarahku.

Aku tak mengerti apa salahku.
Tapi mereka terus menghujam kata-kata itu.
Membuatku merasa tak berguna untuk menjalani sebuah kehidupan.

Pernah ku berfikir tuk berjalan sendiri.
Tanpa peduli perkataan mereka tentangku,
Aku terus melangkah.

Melewati segala kehidupanku yang menyedihkan,
Kuberjalan sendiri dengan keberadaanku.
Menghilang dalam sepi, lenyap bagaikan angin.
 
;